Hukum Khitan Menurut Islam

Dalam fikih Islam, Hukum Khitan dibedakan antara untuk lelaki dan perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan baik untuk lelaki maupun perempuan.

Hukum khitan untuk lelaki:Menurut Jumhur (mayoritas ulama), Hukum Khitan bagi lelaki adalah Wajib. Para pendukung pendapat ini adalah Imam Syafi’i, Ahmad dan sebagian pengikut Imam Malik. Imam Hanafi mengatakan Khitan Wajib tetapi tidak fardlu.

Menurut riwayat populer dari Imam Malik beliau mengatakan Khitan hukumnya Sunnah. Begitu juga riwayat dari Imam Hanafi dan Hasan al-Basri mengatakan Sunnah. Namun bagi Imam Malik, sunnah kalau ditinggalkan berdosa, karena menurut madzhab Maliki sunnah adalah antara fadlu dan nadb. Ibnu abi Musa dari ulama Hanbali juga mengatakan Sunnah Muakkadah.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni mengatakan bahwa Khitan bagi lelaki hukumnya Wajib dan kemuliaan bagi perempuan, andaikan seorang lelaki dewasa masuk Islam dan takut khitan maka tidak wajib baginya, sama dengan kewajiban wudlu dan mandi bisa gugur kalau ditakutkan membahayakan jiwa, maka khitan pun demikian.

Dalil yang Yang dijadikan landasan bahwa Khitan Tidak Wajib.

  1. Salman al-Farisi ketika masuk Islam tidak disuruh Khitan;

  2. Hadist di atas menyebutkan khitan dalam rentetan amalan Sunnah seperti mencukur buku ketiak dan memendekkan kuku, maka secara logis khitan juga sunnah.

  3. Hadist Ayaddad bib Aus, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Khitan itu Sunnah bagi lelaki dan diutamakan bagi perempuan. Namun kata sunnah dalam hadist sering diungkapkan untuk tradisi dan kebiasaan Rasulullah baik yang wajib maupun bukan dan khitan di sini termasuk yang wajib.

Adapun dalil-dalil yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan Khitan Wajib adalah sbb.:

  1. Dari Abu Hurairah Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa Nabi Ibrahim melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan dengan menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim melaksanakannya ketika diperintahkan untuk Khitan padahal beliau sudah berumur 80 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya perintah Khitan.

  2. Kulit yang di depan alat kelamin terkena najis ketika kencing, kalau tidak dikhitan maka sama dengan orang yang menyentuh najis di badannya sehingga Sholatnya tidak sah. Sholat adalah ibadah wajib, segala sesuatu yang menjadi prasyarat sholat hukumnya wajib.

  3. Hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah S.A.W. berkata kepada Kulaib: “Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah”. Perintah Rasulullah S.A.W. menunjukkan kewajiban.

  4. Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal membuka aurat sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa khitan wajib, karena tidak diperbolehkan sesuatu yang dilarang kecuali untuk sesuatu yang sangat kuat hukumnya.

  5. Memotong anggota tubuh yang tidak bisa tumbuh kembali dan disertai rasa sakit tidak mungkin kecuali karena perkara wajib, seperti hukum potong tangan bagi pencuri.

  6. Khitan merupakan tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah S.A.W. sampai zaman sekarang dan tidak ada yang meninggalkannya, maka tidak ada alasan yang mengatakan itu tidak wajib.

Advertisements
This entry was posted in Artikel khitan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s